Tampilkan postingan dengan label Puisi-puisi Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi-puisi Sufi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

Tentang Kekafiran



Kemarin seorang yang suka berdebat mengajukan kepadaku sebuah pertanyaan.

Dia mengatakan, “Nabi bersabda bahwa puas dengan kekafiran adalah sebuah perbuatan kufur, dan kata-katanya, bagai sebuah materai, begitu meyakinkan..

Namun dia menyatakan juga bahwa orang Muslim harus puas dengan setiap Takdir Tuhan.

Kini, bukankah kekafiran dan kemunafikan itu merupakan Takdir Tuhan? Jika aku puas dengan kekafiran, aku akan menjadi pengingkar Tuhan.

Dan jika aku tidak puas, itu berarti aku menjadi orang jahat: bagaimana aku dapat melepaskan diri dari dilema ini?

Saya menjawab, “Kekafiran adalah suatu yang ditakdirkan: bukan Takdir itu sendiri, melainkan akibat dari Takdir.

Saya menyetujui kekafiran dalam hubungannya sebagai suatu Takdir Tuhan, bukan sebagai sikap pemberontakan dan kejahatan kita.

Dalam hal Takdir, kekafiran bukanlah kekafiran. Jangan mengatakan Tuhan itu “kafir”, itu salah!

Kekafiran adalah kebodohan, dan Takdir kekafiran adalah hikmah: bagaimana menganggap hilm (kemurahan hati) dan khilm (kemurkaan) dapat disamakan?

Keburukan dalam tulisan bukanlah keburukan penulisnya; sebaliknya, itulah keburukan yang diperlihatkan olehnya.

Kemampuan seniman dipertunjukkan oleh kecakapannya untuk membuat keburukan maupun keindahan.

Apabila kuperpanjang topik ini, maka pertanyaan dan jawabannya akan menjadi panjang sekali.

Kenikmatan rahasia Cinta akan hilang dariku, keindahan bentuk Kesalehan akan ternodai.


—Jalaluddin Rumi—

Kembali Kepada Allah

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata uang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,
karena Aku-lah jalan itu.”
—Jalaluddin Rumi—

Sabtu, 08 November 2014

c.i.n.t.a

Barangkali ada orang berkata: “Tuhan telah mengambil orang yang kukasihi.” Itu karena engkau berpikir bahwa dialah satu-satunya kekasihmu dan engkau adalah orang yang mencintainya; padahal cinta Tuhan meliputi segala sesuatu dan cinta-Nya itu lebih besar dari yang engkau miliki.
“AKU adalah khazanah terpendam; Aku cinta (hubb) dikenal, maka Aku ciptakan makhluk.” (Hadits Qudsi)
Karena cinta Ilahi (divine love), alam semesta hadir, demikianlah pada awalnya kita harus memandang “cinta”. Tanpa cinta segenap petala langit dan bumi akan lenyap binasa. Daya ini merayap menuruni lereng penciptaan dan manifestasi Ilahi, mulai dari martabat yang tertinggi hingga yang paling kasar (alam materi), dan merasukinya tanpa kecuali.

“Cintalah yang membuat engkau hadir, Nak,” seperti diceritakan orang tua kita ketika awalnya mereka memadu kasih. Tapi, tidak! Bukan karena cinta diantara mereka kita ada; tetapi Tuhan-lah yang sedang berkata-kata.
Meskipun segala sesuatu di dunia fana ini akan mati, tetapi tunas-tunas baru hadir dan hadir lagi dari keperadaannya yang tanpa bentuk; sebagai kreasi dari cinta Tuhan.
Barangkali ada orang berkata: “Tuhan telah mengambil orang yang kukasihi.” Itu karena engkau berpikir bahwa dialah satu-satunya kekasihmu dan engkau adalah orang yang mencintainya; padahal cinta Tuhan meliputi segala sesuatu dan cinta-Nya itu lebih besar dari yang engkau miliki.
Seperti pernah ketika Tuhan mengutus Malaikat Izrail kepada Nabi Ibrahim ketika ajalnya sudah dekat. Maka Izrail pun datang kepada Nabi Ibrahim dan memberitahukan perihal tersebut. Namun Nabi Ibrahim berkata, “Sampaikan kepada Kekasihku, apakah seorang kekasih tega mencabut nyawa kekasihnya?”
Malaikat Izrail kembali dan menyampaikan pesan tersebut. Dia yang Mahakasih pun menjawab: “Katakan kepadanya,” kepada malaikat Izrail, “apakah seorang kekasih tidak rindu untuk bertemu kekasihnya?”
Cerita itu sungguh memikat!
Bagi kaum Kristiani: “Tuhan adalah Kasih; Tuhan adalah Cinta”, gagasan yang muncul dalam segenap aspek kehidupan keberagamaan umatnya. Ini merupakan tema utama yang dibawakan dalam Injil dan juga secara utuh dimanifestasikan oleh Isa putra Maryam, seperti sering dikatakan bahwa Isa Al-Masih merupakan perwujudan Kasih Tuhan di muka bumi. Sabdanya: “Meskipun saya dapat berbicara dengan bahasa-bahasa manusia bahkan bahasa malaikat sekalipun, namun bila saya tidak memiliki kasih maka saya hanya seperti gong yang berdengung atau genta yang gemerincing”. Al-Masih pun berkata pada akhirnya tinggallah tiga hal yang berguna (dalam mengenal Tuhan): “faith, hope and love; but the greatest one is love” (Korintus 1, 13).
“Sesungguhnya tak pernah seorang kekasih mencari tanpa dicari oleh kekasihnya. Apabila kilat Cinta telah menyambar di hati ini, ketahuilah bahwa ada kilat Cinta di Hati yang lain”, demikian Jalaluddin Rumi.
Cinta itulah dari mana kita mekar bagai bunga pada titik penciptaan; cinta pula jalan pulang setiap makhluk. Cinta pula yang menciptakan hasrat Zulaikha akan Yusuf. Hingga akhirnya diceritakan tatkala Yusuf telah menjadi Wazir dari Fir’aun, teman dekatnya, dan merupakan orang terkuat kedua di negara tersebut. Sementara Zulaikha telah dicampakkan oleh suaminya dan kini menjalani hidup sengsara.
Suatu hari, Yusuf bertemu dengan Zulaikha di jalan. Ia mengenakan jubah wazir yang mewah, mengendarai kuda yang indah, dikelilingi para penasihat dan pengawal pribadinya. Sedangkan Zulaikha sendiri berpakaian lusuh, kecantikannya pudar seiring dengan cobaan hidup yang telah dideritanya sekian lama. Yusuf berkata: “Wahai Zulaikha, sebelum ini, ketika engkau ingin menikahiku, aku terpaksa menolakmu. Ketika itu engkau adalah istri dari tuanku. Kini engkau telah bebas dan aku pun bukan lagi seorang budak. Jika engkau mau, aku akan menikahimu sekarang.”
Zulaikha menatap bening dan lantas berkata,”Tidak Yusuf. Cintaku yang mendalam kepadamu dahulu itu tidaklah lain dari sebuah hijab antara aku dan Sang Kekasih. Aku telah merobek tirai itu dan menyampakkannya. Kini setelah kutemukan Kekasih Sejatiku, tidak lagi aku membutuhkan cintamu.”
Cinta—yang telah merasuki setiap benih ciptaan—merupakan ‘dewa’ dari Tuhan untuk menarik makhluk, khususnya manusia, untuk berpaling kepada-Nya.
Sekali meminum ‘air’ cinta itu kita akan senantiasa selalu dahaga hingga kita temukan Objek Cinta yang Abadi. []

Oleh: Zaenal M

Rumi: Setelah Pahat-pahat Itu Selesai Menatahmu, Mi’raj lah

Sebuah panggilan setiap saat berkumandang dari langit: “Dan sungguh, Kami benar-benar meluaskannya.” (*1)
Yang mendengarnya setiap saat, namun bukan dengan telinga? “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang mengabdi, yang bertahmid, yang berjalan (karena Allah), yang ruku’, yang sujud.” (*2)
Carilah tangga “dari Allah, pemilik Al-Ma’arij (tempat mi’raj) ” (*3), lalu naiklah! Tangga yang “Al-Malaa’ikat dan Ar-Ruuh naik (kepada-Nya) dalam satu hari. ” (*4)
Siapakah yang sanggup, dari bahan khayalanmu, mampu membuat nyata tangga ke langit itu?
Tangan “Kepada Kami segala sesuatu akan kembali.” -lah yang membuat mereka mi’raj. (*5)

Ketika pahat sabar dan syukur telah selesai menatahmu , mi’raj-lah,
dan ucapkan, “dan itu tak akan diperoleh, kecuali oleh Ash-Shaabiruun.” (*6)
Saksikan, siapa sesungguhnya yang memegang pahat-pahat itu. Lalu pasrahkan dirimu dengan gembira!
Jangan kau lawan pahat itu, seperti tali para penyihir Fir’aun (yang menjadi ular), ingatlah nasib mereka yang mengatakan, “dengan kuasa Fir’aun, sungguh kami benar-benar akan menang.” (*7)
Majulah beberapa langkah lagi, maka kau akan menjadi “Ashabul Yamin (golongan kanan)” (*8)
Dan jika kau telah sampai pada batas tertinggimu, engkau adalah “As-Saabiquunas-Saabiquun (yang paling utama dari golongan yang utama) ” (*9)
Jika engkau berasal dari tempat para kekasih-Nya di langit, maka datanglah!
Dan masuklah ke dalam shaf “Sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf” (*10)
Jika engkau miskin, tabuhlah genderang “Kemiskinan adalah jubahku” (*11)
Jika engkau seorang faqih, jagalah agar engkau tidak termasuk kedalam “mereka adalah kaum yang la-yafqihuun (tidak memahami)” (*12)
Jika engkau telah menjadi nun yang bertekuk lutut seperti qalam yang bersujud, Maka engkau termasuk ke dalam “apa yang mereka tulis” dalam “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.” (*13)
Jadilah mata yang melihat dalam “kelak kamu akan melihat” , kepada mereka yang ada dalam “mereka pun akan melihat.” (*14)
Bahkan jika engkau “bersikap lunak” bagai penjilat, namun apa artinya itu bagi “mereka yang bersikap lunak (pula kepadamu)?” (*15)
Hunjamkan akarmu kuat-kuat, seperti pohon Sidrah yang “tiada keraguan di dalamnya.” (*16)
Jagalah dedaunan dan batangmu dari goyah karena tiupan nafas “yang kami tunggu-tunggu hingga kecelakaan menimpanya.” (*17)
Lihatlah kebun yang menjadi arang dalam “malapetaka (yang datang) dari Rabb-mu” , tipu dayanya menghanguskan kebun mereka “ketika mereka sedang tidur.” (*18)
Dikutip dari Rumi, dalam Nargis Virani: “I am the Nightingale of the Merciful”: Rumi’s Use of the Qur’an and Hadith. Terjemahan dan catatan oleh Herry Mardian.
Catatan
(*1) Q. S.[ 51] : 47
(*2) Q. S. [9] : 112
(*3) Q. S. [70] : 3
(*4) Q. S. [70] : 4
(*5) Q. S. [21] : 93
(*6) Q. S. 28 : 80
(*7) Q. S. [26] : 44
(*8) Q. S. [56] : 27.
(*9) Q. S. [56] : 10
(*10) Q. S. [37] : 165
(*11) (Al-Hadits)
(*12) Q. S. [8] : 65
(*13) Q. S. 68 : 1
(*14) Q. S. [68] : 5, “Maka kelak kamu akan melihat, dan mereka pun akan melihat.”
(*15) Q. S. [68] : 9 “Maka mereka ingin agar kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).”
(*16) Q. S. [2] : 2
(*17) Q. S. [52] : 30
(*18) Q. S. [68] : 19

“Cinta Tak Sampai, Terlunta-lunta, Menunggu”

Wahai diriku,
jalan yang ditempuh para
‘arif billah
lebih sulit terlihat bahkan dari yang paling samar.
Yang menghalangi jalannya Raja Sulaiman, adalah seekor semut. [1]

Siang malam air mata sang pecinta
mengalir tanpa henti
memerah darah
merindu Sang Terkasih.

“Kekasih yang cintanya tak kesampaian,
terlunta-lunta kesana-kemari,
menunggu cintanya berbalas,” [2] kata mereka kepadaku, dulu.


Mereka benar.
Memang begitulah yang pernah terjadi padaku.

Kucoba untuk memahami keempat kitab,
hingga hadir sebuah balasan Cinta,
dan semua itu ternyata cuma sebuah suku kata. [3]

Wahai engkau yang mengaku pecinta-Nya,
meski belum pernah kau lakukan satu pun yang diharamkan-Nya,
ketahuilah: satu-satunya saat ketika kau tak berdosa
adalah ketika engkau sedang berada dalam genggaman kedua tangan-Nya. [4]

Dua orang saling bicara. “Andai saja
aku bisa bertemu dengan Yunus itu,” kata yang satu.
“Aku pernah bertemu dengannya,” kata yang lain.
“Ia cuma seorang tua yang cintanya tak kesampaian.”
Yunus Emre (1238 – 1320).
Terjemahan Interpretatif Bahasa Indonesia oleh Herry Mardian.
Teks bahasa Inggris: The lover is outcast and idle
: :
Keterangan:
[1] Q. S. An-Naml : 18 – 19, “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut. “Hai semut-semut, masuklah kedalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
Maka dia tersenyum dan tertawa karena perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku, dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.”
[2] Seorang yang merindukan Allah, di manapun ia berada akan mencari-cari tanda-tanda-Nya, jejak-jejak-Nya. Di manapun ia berada, pada dasarnya ia selalu dalam penantian menunggu ‘kehadiran’ Allah kepada dirinya. Ia selalu menanti saat-saat Allah berkenan membuka hijab-Nya.
[3] ‘Sebuah suku kata’, mungkin Yunus Emre memaksudkannya pada ‘Al’ dalam lafaz ‘Allah’. ‘Al’ dalam bahasa Arab bermakna kata ganti tertentu, maknanya sama seperti ‘The’ dalam bahasa Inggris. Maknanya, katakanlah, ‘Sang’ atau ’sesuatu’, tentang ‘Dia’ atau ‘Hu’. (Alif-lam-lam-hu). Segala sesuatu pada dasarnya berbicara tentang Allah dan mengungkapkan sesuatu tentang Allah.
Baca juga “Memahami Nama ‘Dia’ yang Tak Bernama” (Herry Mardian)
[4] ‘Seseorang berada dalam genggaman dua tangan Allah’, bermakna telah sepenuhnya mengikuti dan tunduk dengan sepenuh hati pada kehendak Allah atas dirinya, baik yang tampak ‘baik’ (tangan ‘kanan’, jamal) maupun yang tampak ‘buruk’ (tangan ‘kiri’, jalal).
Maknanya, ketika seseorang telah sepenuhnya selaras dengan kehendak Allah ta’ala, ketika ia tidak lagi memiliki kehendak diri (hawa nafsu), barulah ia sama sekali terbebas dari dosa. Makna ‘dosa’, pada dasarnya adalah ‘segala sesuatu yang tidak disukai Allah ta’ala pada diri seseorang.’