Senin, 05 September 2016

30! 30! 30! Genap tiga puluh sudah umurku. Aku tidak ingin muluk-muluk lagi dalam menggantungkan keinginan ke langit-langit harapan, kecuali aku hanya ingin jadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin dan hari ini. Dan aku ingin menempuh jalan suluk (pertobatan) menjadi salik di thariqah kadisiyah dibawah bimbingan pak guru zamzam di bandung. Entah kapan pastinya aku tidak tahu. Biarlah kepantasanku dan kesiapanku Tuhan yang mengukurnya. Aku yakin jika yang kucari hanya Dia, maka dia akan senantiasa memberiku petunjuk dan memberi pertolongan. Aamiin...

catt.. ini seharusnya diposting 22 agustus kemarin, tapi lantaran sudah lama gak buka blog dan lupa email dan paswodnya, serta banyak berkutat dengan smarphone juga si laptop sedang rusak kala itu, jadi sekarang sempatnya posting ini. Hihihiii

Selasa, 01 Desember 2015

si burung malam



dan tentangmu
si burung malam
mengeram telurnya dalam hangat perut bulan
ia katupkan sayapnya
agar tak gigil ia dihempas angin malam

dan tentangmu
si burung malam nan kesepian
sendiri ia dipenceklik musim kesendrian
lalu, bertanya ia di dalam hati
"kapankah rahim bulan melahirkan
anak-anaknya yang tersayang?"

dan tentangmu
si burung malam
pada matamu yang tak pejam
kau simpan sebeku harapan
berharap esok pagi mencairkan penantian

(senggarang, 2 desember 2015)

Senin, 16 November 2015

Jatuh Bangun Hubungan dengan Tuhan

Ini semua tentang jatuh bangun hubunganku dengan-Mu, Tuhan.
Aku yang selalu terjerambab ke dalam lubang yang sama (kesalahan yang sama)
Aku si tukang selingkuh --mengaku mencintaiMu lebih dari apapun-- justru mencintai hal berbau dunia (fana) secara berlebihan dan aku tidak tahu apakah kecintaanku tersebut sudah melebihi cintaku kepadamu, o jiwaku yang malang.
Aku yang masih diliputi kekafiran dalam pikiran maupun perbuatan.
Aku yang masih diperbudak oleh syahwat dan hawa nafsuku.
Aku yang belum merdeka
Aku yang masih terjajah
Aku yang belum istiqomah
Aku yang belum hijrah
Aku yang belum berserah
Dan pasrah.

Kamis, 13 Agustus 2015

Ayam Panaiak

malam salasa, salasa manjalang pagi
kato talompek, talompek mamutuih tali
indak disasa yo nan tajadi
mungkin suratan nan tibo dibadan diri

sungguah badantiang, badantiang
indaklah denai harok
kok buhua sentak ondeh dia
lungga kabeknyo

cabiak dibaju alah den tumbok
cabiaknyo hati ondeh diak
susah ubeknyo

sapantun bana oi tali tigo sapilin
sapilin putuih ondeh diak
bisa diuleh
lai den colok, den colok raginyo kain
maratok banang oi banang
ka bakeh kapeh

manyasa kapeh ondeh diak
manjadi banang
badan ndak lapeh ondeh diak
dari caraco

sakik di dalam den tangguang surang
pilin nan tigo ondeh diak
putuih jadinyo


(voc. Elda)

Kamis, 28 Mei 2015

Perempuan bukan perempuanku



perempuanku, 
jika kelak kau duduk manis di pelaminan bersanding dengan lelaki yang bukan diriku, 
apakah aku sanggup menerima semua itu?
perempuanku, 
apakah saat itu aku bisa berlapang dada, 
lantas menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepadamu?
perempuanku, 
maafkan aku jika kelak aku tak sanggup melakukan itu, 
bahkan untuk sekadar tersenyum aku tak lagi bisa.
perempuanku, 
mungkin hanya selaksa doa berurai airmata yang bisa kuhelak dari setiap tarikan napasku 
di penghujung malamku nan sendu.
doaku padamu. 
doaku padamu. 
doaku padamu. 
dari titik terjauh aku menginjakkan kakiku untuk kembali berjalan 
dan terus berjalan..
dan saat itu, bahkan mungkin saat ini aku tiada pantas lagi memanggilmu, 
"perempuanku.."
karena saat itu kau adalah,
perempuan bukan perempuanku.

(Jum'at 29 Mei 2015 di bulan Sya'ban)

Kamis, 14 Mei 2015

wahai, ajaklah aku

wahai seseorang
ini tanganku
kuulur padamu
sambutlah, genggamlah olehmu
dengan kemurahan hatimu
kebijaksaanmu, budi pekerti luhurmu

ajaklah aku;
si lumpuh ini
si buta ini
si bisu ini
si tuli ini
si bodoh ini
besertamu, bersamamu

ajaklah aku
memulai petualangan baru
biru nan haru
berjalan dan berjalan, lalu
hilang kesadaranku akan
hingar bingar waktu
sorak sorai dunia semu
hingga semakin aku tahu
semakin membuat aku jadi tak tahu

wahai seseorang
aku ingin berjalan bersisian denganmu
kau jadi pemanduku
menunjukkan rambu demi rambu
agar tak tersesat daku
dari jalan orang-orang terdahulu

wahai seseorang
katakanlah, "mari, ikutlah denganku."
aku siap bersedia
siap siaga, terjaga
menempuh perjalanan dalam diri
dari hati ke hati
dari cinta menuju Cinta.

(Senggarang, 01 Mei 2015)

ket: seseorang = hamba Allah

Kamis, 09 April 2015

Tentang Kekafiran



Kemarin seorang yang suka berdebat mengajukan kepadaku sebuah pertanyaan.

Dia mengatakan, “Nabi bersabda bahwa puas dengan kekafiran adalah sebuah perbuatan kufur, dan kata-katanya, bagai sebuah materai, begitu meyakinkan..

Namun dia menyatakan juga bahwa orang Muslim harus puas dengan setiap Takdir Tuhan.

Kini, bukankah kekafiran dan kemunafikan itu merupakan Takdir Tuhan? Jika aku puas dengan kekafiran, aku akan menjadi pengingkar Tuhan.

Dan jika aku tidak puas, itu berarti aku menjadi orang jahat: bagaimana aku dapat melepaskan diri dari dilema ini?

Saya menjawab, “Kekafiran adalah suatu yang ditakdirkan: bukan Takdir itu sendiri, melainkan akibat dari Takdir.

Saya menyetujui kekafiran dalam hubungannya sebagai suatu Takdir Tuhan, bukan sebagai sikap pemberontakan dan kejahatan kita.

Dalam hal Takdir, kekafiran bukanlah kekafiran. Jangan mengatakan Tuhan itu “kafir”, itu salah!

Kekafiran adalah kebodohan, dan Takdir kekafiran adalah hikmah: bagaimana menganggap hilm (kemurahan hati) dan khilm (kemurkaan) dapat disamakan?

Keburukan dalam tulisan bukanlah keburukan penulisnya; sebaliknya, itulah keburukan yang diperlihatkan olehnya.

Kemampuan seniman dipertunjukkan oleh kecakapannya untuk membuat keburukan maupun keindahan.

Apabila kuperpanjang topik ini, maka pertanyaan dan jawabannya akan menjadi panjang sekali.

Kenikmatan rahasia Cinta akan hilang dariku, keindahan bentuk Kesalehan akan ternodai.


—Jalaluddin Rumi—